Debu jalanan Cisaat masih melekat di sandal jepitku, Aroma singkong goreng Bu Minah masih tercium di hidungku. Pagi ini, mentari Cisaat menyapa dengan senyum hangatnya, Namun, hatiku bergemuruh, antara rindu dan cita-cita.
Bandung memanggil, dengan gemerlap lampu kotanya, Universitas impian, gerbang ilmu membentang di depannya. Namun, di sini, di Cisaat, kenangan bersemi dan berakar, Di antara sawah hijau dan suara adzan di kala fajar.
Selamat tinggal, Cisaat, kampung halamanku tercinta, Berat kaki melangkah, air mata hampir tumpah. Namun, ku berjanji, nanti aku akan kembali, Membawa ilmu dan kesuksesan, untukmu, Cisaat pertiwi.
Di bawah langit Bandung, aku akan berjuang, Menuntut ilmu, meraih mimpi yang kupendam sejak lama. Namun, jangan khawatir, Cisaat, engkau tetap di hatiku, Setiap langkahku di Bandung, bayangmu selalu menemaniku.
Kenangan bersama teman-teman di pos ronda, Canda tawa di warung kopi Mang Ujang, Semua itu akan ku bawa sebagai bekal, Menghadapi kerasnya hidup di kota metropolitan.
Selamat tinggal, Cisaat, kampung halamanku tercinta, Berat kaki melangkah, air mata hampir tumpah. Namun, ku berjanji, nanti aku akan kembali, Membawa ilmu dan kesuksesan, untukmu, Cisaat pertiwi.
Kereta api melaju, meninggalkan stasiun Cisaat, Pemandangan hijau perlahan menghilang dari mata. Namun, di dalam hati, terpatri janji yang kuat, Suatu saat nanti, aku akan kembali, Cisaat.