Oleh Aris Munandar
Entah kenapa saya jadi sangat bersemangat menuliskan kisah ini, mungkin karena saya terbawa suasana kali ya?
Saya adalah orang yang kepo, hehehe… Setelah rasa penasaran saya tentang sosok Kaka Dens Kuswandi sedikit terobati berkat artikel di media lokal itu, eh, justru muncul rasa penasaran baru. Kenapa ya jurnalis perempuan ini kok mau-maunya mengangkat kisah Kaka Dens?
Insting kepo saya langsung bergejolak. Dengan modal SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), saya mencoba menghubunginya via WhatsApp. Awalnya agak ragu, tapi nekat aja lah. Beberapa kali saya ajak bertemu, dan untungnya, dia bersedia! Rejeki anak kepo, pikir saya.
Saat bertemu, obrolan kami mengalir begitu saja. Dia bercerita awal mula pertemuannya dengan sosok Kaka. Ternyata, mereka bertemu saat si jurnalis masih kuliah di salah satu universitas di Bandung.
Kaka sering datang ke lab komputer di kampusnya karena diundang oleh dosennya. "Saya kuliah di jurusan jurnalistik," ujarnya, menjelaskan konteks pertemuannya dengan Kaka.
Usut punya usut, Kaka Dens sering diundang oleh dosen tersebut karena ia sering dimintai bantuan untuk memprogram komputer di lab. Wah, ternyata Kaka juga jago komputer! Pantas saja dulu saya pernah bekerja di bawah kepemimpinannya di lembaga kursus komputer. Connecting the dots, istilahnya.
Nah, ini bagian yang paling menarik. Ternyata, alasan utama si jurnalis tertarik dengan sosok Kaka Dens Kuswandi bukan hanya karena kisah hidupnya yang menarik, tapi… dia menyukainya! Ups! Dia suka dengan gaya Kaka, mindset-nya, dan bagaimana sosoknya kini sangat kontradiksi dengan latar belakangnya.
"Bayangin aja," katanya sambil tertawa kecil, "dulu pernah hidup di jalanan, sekarang jadi pengusaha nuda. Keren banget, kan?" Huhuhuhhu... so sweet banget si lho waktu itu si teteh ceritanya. Hehehehe
BTW teteh jurnalis ini cantik lho... Sast pertama ketemu sama dia, kesan pertama saya adalah… manis. Benar-benar manis. Rasanya seperti melihat tokoh utama di film-film rom-com. Kulitnya bersih dengan rona merah muda alami di pipinya, dipadu dengan senyum yang begitu tulus, rasanya sulit untuk tidak terpana.
Rambutnya yang hitam legam tergerai indah, sesekali ia selipkan ke belakang telinga saat berbicara, sebuah gestur kecil yang justru menambah kesan manisnya. Matanya yang bulat dan berbinar memancarkan kecerdasan dan rasa ingin tahu yang besar.
Cara bicaranya pun lembut dan ramah, sesekali diselingi tawa renyah yang membuat suasana semakin cair. Ia mengenakan blus berwarna pastel yang sederhana namun tetap terlihat modis, dipadukan dengan celana panjang dan sepatu kets.
Penampilannya yang kasual namun tetap rapi menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang praktis dan tidak berlebihan. Jujur saja, kalau boleh dibilang, ia memang cantik. Bukan hanya cantik secara fisik, tapi juga cantik dari dalam, terpancar dari aura positif dan keramahannya. Tidak heran jika ia begitu tertarik dengan sosok Kaka Dens Kuswandi. Keduanya seperti memiliki chemistry yang kuat, meskipun dalam konteks yang berbeda. saya jadi cemburu. Uhuk.
Yang lebih menarik lagi, si jurnalis ini bercerita tentang hal yang membuatnya benar-benar terpikat pada sosok Kaka Dens. "Kamu tahu kan," ujarnya dengan nada sedikit berbisik, "Kaka itu dulunya… ya, bisa dibilang mantan preman, anak jalanan gitu kan ya.
Bahkan, dia sempat putus sekolah lho." Mendengar itu, saya hanya bisa mengangguk pelan, mengingat kembali informasi yang saya dapat dari artikel dan pertemuan sebelumnya.
Namun, di situlah letak keistimewaannya. Meskipun memiliki latar belakang yang keras dan pendidikan yang sempat terputus, Kaka Dens justru menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. "Dia itu kalau ngobrol, nyambung banget!" lanjut si jurnalis dengan mata berbinar. "Bisa kasih motivasi ke mahasiswa, bahkan saat ngobrol sama dosen-dosen juga kesannya cair banget. Padahal, kan, background-nya beda jauh."
Kontradiksi inilah yang membuat si jurnalis begitu terkesan. Bagaimana bisa seorang yang pernah hidup di jalanan, dengan segala kerasnya, bisa memiliki wawasan yang luas dan kemampuan berkomunikasi yang begitu baik? Ia menjelaskan bahwa Kaka Dens memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai kalangan.
Ia bisa berbicara dengan bahasa anak muda, memberikan motivasi yang relevan dengan permasalahan mereka, namun di saat yang sama ia juga bisa berdiskusi dengan para akademisi dengan argumen yang cerdas dan logis. "Dia itu seperti bunglon," kata si jurnalis sambil tertawa kecil, "bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tapi tetap dengan karakternya sendiri."
Ia menambahkan bahwa Kaka Dens memiliki kemampuan self-taught yang luar biasa. Meskipun tidak menyelesaikan pendidikan formal, ia terus belajar dan mengembangkan diri secara otodidak, terutama dalam bidang teknologi dan bisnis. Hal inilah yang membuatnya mampu membangun bisnis konsultan yang sukses mungkin.
Si jurnalis kemudian menceritakan satu momen spesifik yang benar-benar membuatnya terkesan pada Kaka Dens. Saat itu, mereka sedang membahas tentang pentingnya pendidikan. Kaka, yang notabene pernah putus sekolah, justru memberikan pandangan yang sangat berbeda dan mendalam.
"Dia bilang begini," si jurnalis menirukan ucapan Kaka, "'Pendidikan itu bukan cuma soal ijazah atau gelar. Pendidikan yang sebenarnya adalah proses tanpa henti untuk belajar dan berkembang. Sekolah memang penting, tapi pengalaman hidup, interaksi dengan orang lain, dan kemauan untuk terus belajar juga merupakan bagian penting dari pendidikan yang sesungguhnya.
Bahkan, terkadang, kesulitan dan tantangan hidup di jalanan justru memberikan pelajaran yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolah.'" Argumen ini, bagi si jurnalis, sangatlah kuat dan relevan.
Ia merasa tersentuh dengan pemikiran Kaka yang begitu bijak dan dewasa, padahal ia pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. "Kata-katanya itu sederhana, tapi maknanya dalam banget," ujarnya dengan nada kagum. "Dia berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi atau pendidikan formal tidak bisa menghalangi seseorang untuk menjadi pribadi yang cerdas dan berwawasan luas."
Lebih lanjut, Kaka Dens menambahkan, "'Yang terpenting itu bukan di mana kita pernah berada, tapi ke mana kita akan melangkah. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran, tapi jangan sampai membelenggu kita untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Setiap orang punya kesempatan untuk berubah dan sukses, asalkan ada kemauan dan usaha.'" Kalimat ini, menurut si jurnalis, benar-benar menyentuh hatinya. Ia melihat ketulusan dan keyakinan yang terpancar dari mata Kaka saat mengucapkannya.
Di situlah, ia merasa tidak hanya kagum, tapi juga mulai merasakan getaran yang berbeda. Bukan hanya sekadar kekaguman pada sosok yang inspiratif, tetapi juga ketertarikan yang lebih personal. Hehehe...
Dan yang paling membuatnya terkesan adalah penekanan Kaka pada pentingnya membangun jaringan dan kemampuan bernegosiasi. “'Di dunia ini,’ kata Kaka dengan mantap, ‘yang terpenting itu membangun networking.
Kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain, butuh koneksi. Dengan membangun jaringan yang luas, kita bisa membuka banyak peluang dan belajar dari berbagai perspektif.
Dan yang tak kalah penting adalah kemampuan negosiasi. Karena, hanya kematian yang tidak bisa dinego. Segala hal lain dalam hidup ini, entah itu bisnis, relasi, atau bahkan masalah pribadi, bisa dinegosiasikan.
Kuncinya adalah komunikasi yang baik, saling menghargai, dan mencari solusi yang saling menguntungkan.’” Ucapan ini benar-benar membekas di benak si jurnalis. Ia melihat bagaimana Kaka, dengan pengalamannya yang beragam, memahami betul arti penting interaksi sosial dan kemampuan berkomunikasi dalam mencapai tujuan. Di titik inilah, kekaguman si jurnalis bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ahyak... ahyak....
BERSAMBUNG ....
Lanjut : Apakah Si Jurnalis Manis dan Kaka Dens Kuswandi Pernah Bersatu?