Masih dengan Aris Munandar :D
Setelah pertemuan dengan jurnalis manis itu, saya semakin penasaran akan kedua sosok ini, terutama pada sosok Kaka Dens yang sampai saat ini saya belum bisa temui. Seperti apa sih dia sekarang? Kok bisa jurnalis semanis ini suka sama dia?
Namun, saya juga penasaran dengan sosok jurnalis ini. Matanya seolah menyimpan rahasia yang sangat mendalam. Jadi, saya ingin mencoba menggali rahasia dari kedua orang ini dari sisi sang jurnalis manis ini, saya mencoba untuk membuat pertemuan demi pertemuan dengannya. Beruntungnya, dia terkadang bisa menyempatkan waktu.
Pada pertemuan berikutnya, kami berbincang di taman belakang gedung sate sambil makan cilok.. Hehehe.. Biar irit guys.
Pada pertemuan kali ini dia mulai sedikit terbuka tentang kisahnya dengan Kaka Dens, tentang perasaannya. Diawali dengan jalan pertama dengan Kaka Dens, dia bercerita tentang Kaka, katanya dia tak hanya cerdas dan visioner, Kaka juga humoris orangnya. Kehadirannya seolah mengisi bagian hati saya yang hilang.
“Awalnya, saya hanya kagum dengan pemikirannya,” ujarnya sambil menerawang, seolah mengingat kembali momen-momen indah itu. “Tapi, lama-kelamaan, ada sesuatu yang berbeda. Kaka itu… nggak jaim. Orangnya apa adanya.
Kalau lagi bercanda, bisa bikin saya ketawa sampai perut sakit. Tapi, di saat yang sama, dia juga bisa memberikan nasihat yang bijak dan menyentuh hati.” Dia tertawa kecil, “Pernah suatu kali, saat kami lagi makan di warung tenda, tiba-tiba ada kucing nyelonong minta makan. Kaka dengan santainya menyuapi kucing itu dengan ikan dari piringnya. Spontan, saya langsung bilang, ‘Ih, Kaka jorok!’ Eh, dia malah jawab sambil cengengesan, ‘Kasian kucing itu barusan berbisik sama aku, Om secuil aja Om Katanya.’ Dari situ, saya sadar, Kaka itu memang orang yang baik hati dan humble.”
Dia melanjutkan ceritanya dengan mata berbinar, “Kaka itu selalu menyejukan hati. Di saat saya merasa lelah dengan rutinitas dan tekanan pekerjaan, kehadirannya selalu memberikan semangat baru. Dia seperti mengisi bagian hati saya yang kosong, memberikan warna baru dalam hidup saya.
Jujur, saya merasa nyaman dan bahagia saat bersamanya. Rasanya seperti… menemukan rumah.” Dia terdiam sejenak, pipinya merona merah. “Tapi, ya… begitulah. Hidup memang penuh kejutan.” Dia menghela napas panjang, meninggalkan tanda tanya besar di benak saya. Apa yang sebenarnya terjadi antara mereka? Kenapa ada nada sendu dalam setiap kalimatnya saat menceritakan Kaka? Rasa penasaran saya semakin memuncak.
“Sebenarnya,” lanjutnya, “ada satu hal yang paling membuat saya tertarik pada Kaka. Dia itu… misterius. Setiap bertemu, rasanya selalu ada hal baru yang saya pelajari darinya.
Kesannya selalu berbeda, selalu ada warna yang baru. Entah kenapa dia begitu cerdas dan bisa banget cari topik pembicaraan, padahal kan dia bukan akademisi seperti kita-kita?” Dia menggelengkan kepalanya, masih takjub.
Padahal, kalau dipikir-pikir, latar belakang kami sangat berbeda. Saya, yang berkutat dengan buku dan teori, bertemu dengan seseorang yang lebih banyak belajar dari pengalaman hidupnya. Tapi justru itu yang membuatnya unik. Dia punya cara pandang yang berbeda, out of the box. Dan yang paling penting, dia bisa menyampaikan ide-idenya dengan sangat baik, bahkan kepada orang-orang yang berlatar belakang akademis.”
Hal itulah yang bikin si jurnalis makin kagum. “Kamu tahu nggak?” bisiknya, “ternyata dosen-dosen saya juga banyak yang kerja sama lho sama dia. Jadi, selain dia sering diundang dosen buat setting jaringan komputer, ternyata dosen-dosen saya juga ada beberapa yang mengajar di lembaga konsultannya Kaka.
Padahal dia masih muda banget lho waktu itu. Mungkin kalau dia kuliah, dia kating saya beda 2 tahunan.” Dia tertawa kecil. “Bayangkan, seorang yang drop out bisa bekerja sama dengan para akademisi. Itu kan luar biasa! Dia membuktikan bahwa gelar bukan segalanya. Yang penting itu kemampuan dan kemauan untuk terus belajar.”
Penemuan ini semakin memperkuat kesan misterius dan menarik pada sosok Kaka Dens. Bagaimana bisa seorang yang tidak berlatar belakang akademis bisa begitu dihormati dan dipercaya oleh para dosen? Apa sebenarnya yang membuat Kaka begitu istimewa?
Pertanyaan-pertanyaan ini semakin menggelayuti benak saya, mendorong saya untuk terus mencari tahu lebih dalam tentang sosok Kaka dan hubungannya dengan si jurnalis manis ini.
Dan saya mencoba sedikit memberanikan diri untuk lebih dalam lagi menelisik tentang hubungan mereka, lalu saya bertanya. Sudah sejauh apa hubungan Teteh dengan Kaka?
Si jurnalis manis terdiam sejenak, matanya menerawang jauh, seolah sedang memutar kembali kaset kenangan di benaknya. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun kemudian perlahan memudar, digantikan dengan raut wajah yang sedikit sendu.
“Sejauh…,” ia memulai, lalu berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Sejauh bintang dan langit. Dekat, tapi tak tergapai. Atau mungkin… sedekat nadi, lebih dekat dari yang kita duga, tapi tak terlihat.”
Ia menghela napas pelan. “Kaka itu… seperti teka-teki yang tak pernah selesai saya pecahkan. Setiap kali saya merasa sudah menemukan jawabannya, selalu ada pertanyaan baru yang muncul. Dia selalu berhasil membuat saya penasaran.”
Ia melanjutkan dengan nada yang lebih lirih, “Kami pernah sangat dekat. Sangat… intim. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional. Kami saling berbagi mimpi, harapan, dan ketakutan.
Kami saling mendukung dan menguatkan. Rasanya seperti… dua jiwa yang menemukan separuh dirinya yang hilang.” Ia tersenyum getir.
“Tapi, seperti yang saya bilang tadi, hidup memang penuh kejutan. Ada hal-hal yang di luar kendali kita, yang membuat segalanya berubah. Ada jarak yang tiba-tiba membentang di antara kami, jarak yang semakin hari semakin lebar.” Ia menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. “Mungkin… takdir memang tidak mengizinkan kami untuk bersama, tapi saya juga tidak merasa benar-benar telah kehilangannya.”
Jawaban si jurnalis ini semakin membuat saya penasaran. Bahasa klise yang ia gunakan, “sejauh bintang dan langit,” dan “sedekat nadi,” menggambarkan betapa kompleks dan dalamnya hubungan mereka.
Ada kedekatan yang intens, namun juga ada jarak yang tak terhindarkan. Ada cinta, namun juga ada luka. Semua itu bercampur aduk, menciptakan sebuah cerita yang begitu menarik dan menyentuh.
Jawaban dari Teteh jurnalis manis ini tentu bukan jawaban yang membuat rasa penasaran klimaks, karena dia mengucapkan kata “Mungkin… takdir memang tidak mengizinkan kami untuk bersama, tapi saya juga tidak merasa benar-benar telah kehilangannya.”
Apakah mereka masih tetap bersama, atau sudah terpisah?
BERSAMBUNG....
Baca juga: Ternyata Ini Yang Terjadi Antara Jurnalis Manis dan Kaka Dens Kuswandi